-

Unit Bisnis Grup yang Didirikan Dengan Nama Raja Garuda Mas ini Melatih Kemampuan Beternak Masyarakat

Advertisement
Berdiri dengan nama Raja Garuda Mas, Royal Golden Eagle (RGE) terbilang unik. Keberadaan mereka sering menjadi berkah bagi masyarakat di sekitarnya. Salah satu buktinya adalah kemampuan warga dalam beternak yang meningkat berkat anak perusahaan RGE. Royal Golden Eagle didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto pada 1973. Sebelumnya mereka lahir dengan nama Raja Garuda Mas. Namun, karena skala bisnis serta misi perusahaan yang memperluas skala bisnis  di level global, transformasi nama menjadi RGE dilakukan pada 2009.

Unit Bisnis Grup yang Didirikan Dengan Nama Raja Garuda Mas ini Melatih Kemampuan Beternak Masyarakat


Kini RGE sudah mantap menjadi korporasi kelas internasional. Berkecimpung dalam berbagai bidang industri sumber daya, mereka memiliki aset senilai 18 miliar dolar Amerika Serikat dan karyawan sekitar 60 ribu orang. Anak perusahaan maupun cabangnya pun tersebar hingga Malaysia, Singapura, Brasil, Kanada, Filipina, serta Tiongkok. Akan tetapi, kesuksesan itu malah menghadirkan tanggung jawab baru bagi Royal Golden Eagle. Sebab, pendiri sekaligus Chairman RGE, Sukanto Tanoto, mewajibkan agar anak-anak perusahaannya untuk ikut peduli terhadap nasib masyarakat di sekitarnya serta kemajuan negara secara umum.

Hal itu dinilai oleh Sukanto Tanoto sebagai keharusan. Dia berkata, “Ketika sebuah perusahaan berada dalam skala tertentu, mereka harus balik memberi kepada masyarakat agar bisa terus berkembang.” Arahan ini akhirnya dilaksanakan oleh anak-anak perusahaan RGE. Wujud nyatanya pun beragam. Melatih kemampuan warga untuk berternak misalnya. Hal ini merupakan salah satu contoh tindakan konkret yang dilakukan oleh Asian Agri.
Mulai beroperasi pada 1979, Asian Agri adalah unit bisnis bagian dari Royal Golden Eagle yang bergerak dalam industri kelapa sawit. Mereka merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia dalam bidang tersebut. Hal itu wajar mengingat kapasitas produksi minyak kelapa sawit mereka per tahun bisa mencapai 1 juta ton.

Untuk menjalankan filosofi bisnis RGE, Asian Agri sering membantu masyarakat untuk mampu mandiri. Mereka mewadahinya dalam payung kegiatan Community Development.
Melatih warga agar bisa beternak kambing dan domba merupakan salah satu langkahnya. Asian Agri gencar melakukannya di Desa Batu Anam, Kacamatan Rahuning, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Di sana Asian Agri melatih para pemuda desa yang tergabung dalam Karang Taruna untuk beternak kambing ettawa. Keterampilan ini diajarkan agar warga memiliki kemampuan menambah penghasilan baru di bidang peternakan.

Sebelum diajari, Asian Agri sudah memberikan bantuan modal terlebih dulu. Sejak September 2016, anak perusahaan Royal Golden Eagle ini sudah membangun fasilitas kandang. Selain itu, Karang Taruna telah diberi sebelas ekor kambing untuk dipelihara. Asian Agri berharap dukungan tersebut menyemangati warga untuk beternak kambing. Sebab, jika dilakukan dengan serius, peternakan bisa memberi pendapatan yang besar untuk mendukung perekonomian keluarga. Hal itu juga dilakukan karena selaras dengan arahan Sukanto Tanoto. Ia memang menginstruksikan kepada RGE agar terus membantu masyarakat. Namun, dukungan yang diberikan mesti berupa rangsangan untuk mampu mandiri. Ia mengistilahkannya sebagai mengajari memancing dibanding hanya sekadar memberi ikan kepada warga.
Pola dukungan seperti ini disambut baik oleh warga. Dengan tangan terbuka, mereka mau diajari berbagai keterampilan beternak kambing.

PENAMBAHAN WAWASAN

PENAMBAHAN WAWASAN


Selain memberi dukungan fasilitas peternakan beserta ternaknya, tujuan utama yang ingin digapai oleh Asian Agri adalah kecakapan beternak warga. Oleh karena itu, mereka terus mendampingi warga dalam merawat ternak-ternaknya. Ada sebuah tim khusus yang disiapkan oleh anak perusahaan grup yang dulu bernama Raja Garuda Mas ini untuk mendampingi warga. Selain itu, Asian Agri juga sering bekerja sama dengan Tanoto Foundation dalam pelaksanaan pelatihan dan pendampingan kemampuan beternak. Perlu diketahui, Tanoto Foundation merupakan yayasan sosial yang didirikan oleh pengusaha Sukanto Tanoto. Ia merintisnya sejak 1981 bersama sang istri, Tinah Bingei Tanoto, sebagai sarana untuk menghapus kemiskinan di Indonesia.

Salah satu wujud nyata kerja sama Asian Agri dan Tanoto Foundation diperlihatkan pada 3 September 2017. Seperti dilaporkan oleh Go Sumut, mereka mengajak Karang Taruna Desa Batu Anam untuk studi banding ke peternakan lain. Mereka diajak melihat cara Tharraya Farm yang ada di Binjai, Kabupaten Deli Serdang dalam menernakkan kambing ettawa. Sebelum datang ke sana, anggota Karang Taruna Desa Batu Anam sudah diajari teknik budidaya kambing. Mereka tahu cara pengembangbiakan yang baik, jenis pakan, sistem pemasaran, hingga pemilihan bibit unggul. Di Tharraya Farm, mereka bertukar ilmu dengan pengelola peternakan, Suryono. Ia mengajari bagaimana mengatur pola makan dan jenis pakan yang sesuai dengan nutrisi, sehingga pertumbuhan dan hasil dari kambing bisa maksimal. Selanjutnya, pemahaman tentang  tingkah ternak diterima. Menurut Suryono, peternak harus mempelajari keseharian ternak agar selalu sehat.

Bukan hanya itu, dalam studi banding tersebut, peserta langsung diajak untuk melihat ke kandang Tharraya Farm. Di areal kandang tersebut, peserta diajak melihat berbagai jenis kambing yang ada, jenis kandang dan berbagai inovasi yang dilakukan. Selanjutnya, peserta melakukan praktik pembuatan fermentasi pakan hijauan, jagung, dan mineral blok. Program ini mendapat sambutan baik dari peserta. Mereka mengaku terinspirasi untuk mempraktikkannya di rumah sendiri. “Kegiatan ini semakin menambah semangat saya untuk mengembangkan ternak kambing. Tempat ini sebenarnya area kota. Di sini rumput termasuk sudah sangat sulit tapi Pak Suryono bisa berhasil,” ujar salah seorang peserta studi banding dari Karang Taruna Desa Batu Anam seperti dilaporkan Go Sumut. “Selain itu, kami juga mendapatkan pengalaman baru mulai dari pencegahan penyakit, jenis pakan, tipe kandang, pengolahan susu dan lainnya.”

Sementara itu, Asian Agri merasa senang terhadap antusiasme peserta studi banding. Pasalnya, kegiatan ini dirasa penting untuk menumbuhkan keterampilan beternak. “Kegiatan ini merupakan rangkaian upaya menambah pengetahuan, keterampilan  dan pengalaman peserta dalam mendukung pengembangan perekonomian masyarakat di sekitar perusahaan. Hal ini sesuai dengan potensi sumber daya alam yang tersedia, sehingga anggota kelompok akan bisa mengembangkan usaha budidaya ternaknya dan menciptakan peluang kegiatan yang positif untuk anak-anak muda dan masyarakat,” ucap Koordinator CSR Asian Agri Sumut, Fajar Suryono, di Go Sumut.
Asian Agri memang ingin masyarakat di sekitar area operasionalnya sejahtera. Mereka konsisten menggelar aksi pemberdayaan masyarakat seperti ini. Selain itu, unit bisnis bagian dari RGE ini juga membagi energi listrik dari pembangkit listrik tenaga biogas yang dimilikinya. Lagi-lagi ini sejalan dengan filosofi bisnis 5C yang menjadi pegangan Royal Golden Eagle. Lewat arahan tersebut, grup yang pernah bernama Raja Garuda Mas ini memang ingin berguna kepada masyarakat dan negara secara umum. Dengan aksi seperti inilah, mereka justru mampu tumbuh semakin besar seperti yang dinyatakan oleh Sukanto Tanoto.
Previous
Next Post »